Kamis, 28 Juli 2011
Samsung Galaxy Tab 10.1
Samsung Galaxy Tab 10.1
Tablet yang ditunjukan untuk merespon kemunculan Ipad 2. Meski berlayar lebih besar, tablet tampil lebih tipis dibanding seteru sejenis. Kali inni, sang tablet dipersenjatai Android Honey Comb dengan dual kamera, 3.15MP dan 2 MP. Selain itu kedua kamera juga dilengkapi fitur autofokus dan LED flash. Saat dipegang satu tangan, terasa Galaxy Tab 10.1 cukup ringan. Mungkin karena bahan plastik yang membungkus bodinya.
Tampilan display 16:0 tajam dan jelas, baik di luar maupun di dalam ruangan. Terdapat settinng display otomatis, menyesuaikan dengan cahaya yang tersedia. Teknologi super PLS menjadikan layar tetap jelas terlihat dalam sudut lebar maupun pencahayaan yang berlebihan.
Browser Android mendukung multitab dan flash. Anda bisa menggunakan fungsi motion pada browser yakni tinggal meletakkan 2 jempol di sisi kiri dan kanan layar, kemudian gerakkan kebawah untuk memperbesar atau ke atas untuk memperkecil ukuran web. Hal ini tentu memudahkan anda yang menggemari cara-cara yang praktis dan mudah. Koneksi internet via wi-fi berjalan mulus tanpa ada gangguan pada Galaxy tab ini. Saat anda akan menggunakan akun gmail, anda dapat mem_backup maupun memulihkan kembali beragam data seperti kontak, setting aplikasi, email dan dalinnya. Serta masih ada software kies yang kaya fitur. Anda bisa mentransfer beragam file multimedia, baik lewat kabel USB maupun wi-fi.
Harga : Rp.5.999.000
Posted in: GadgetGolongan Manusia
Kata Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin-nya : setelah semua catatan amal berserakan diberkan kepada tangan kanan, kiri atau dari belakang, kemudian mereka diberi pertanyaan dan setelah itu manusia dibagi menjadi 3 golongan yaitu :
Golongan Pertama
Suatu golongan yang bagi mereka sedikitpun tidak ada kebaikan. Untuk mereka ada ular besar dan hitam keluar dari neraka, kemudia memungut golongan tersebut, seperti mengambil makanan yang disukai dan dimasukkan ke mulutnya. Kemudian mereka dilahap dan dicampakkan ke dalam nereaka. Dikatakan kepada mereka “Kesengsaraan! Dan setelah kesengsaraan itupun tidak ada kebahagiaan untuk mereka.”
Ular besar yang mempunyai kefasihan dalam berbicara mengungkapkan “Sesungguhnya aku ditugasi untuk tiga golongan : pertama para penguasa yang keras kepala”. Lalu ular itu menyambar mereka dan para sekutunya.
Kemudian ular itu keluar dan berkata lagi “Sesungguhnya aku ditugasi (tugas kedua) untuk orang-orang yang menyakiti Alloh dan Rasul-Nya”. Binatang itupun menyambar mereka diantara beberapa shaf mahsyar.
Kemudian binatang itu keluar untuk ketiga kalinya. Kata Abul Minhaj : binatang itu berkata “Aku ditugaskan (tugas ketiga) untuk orang-orang yang menjadikan patung sebagai tuhannya. Dia pun langsung menyambar mereka dan para sekutunya serta langsung memasukkannya kedalam neraka JAHANAM. (IHYA ‘ULUMUDDIN)
Artinya golongan itu di neraka selama-lamanya, seperti Abu Jahal atau Abu Lahab atau bahkan Fir’aun, dan seluruh kawan-kawan yang sikapnya identik dengan mereka. Semoga Kita sebagai Umat Muslim di beri ketabahan dan petunjuk dari Alloh SWT. untuk dapat menemukan jalan yang lurus yakni jalan yang diridhai oleh Alloh supaya terhindar dari pengelompokkan di tiga golongan yang dituliskan di atas. Amin
Golongan Kedua
Ialah golongan yang tidak ada kejahatan bagi mereka. Kemudian diserukan oleh yang menyerukan :”Hendaklah engkau bangun memuji Alloh ta’ala diatas segala hal...”Kemudian berdiri dan berjalan ke surga. Demikian ini bagi yang selalu bangun mengerjakan shalat malam. Orang yang tidak disibukkan oleh perniagaan dunia, jual beli dan lain-lain, kecuali mereka mengingat Alloh ta’ala. Diserukan kepada mereka
“Kebahagiaan ! dan tidak ada kesengsaraan sesudahnya” (IHYA ‘ULUMUDDIN)
Mereka adalah yang memiliki keutamaan masuk surga tanpa hisabah apapun.
Dari Hadist melalui Umar bin Ash ra. Nabi pernah bersabda tentang golongan orang yang masuk surga tanpa hisabah atau yang memiliki keutamaan dari Alloh yakni :
Mereka yang ketika dianiaya ia bersabar, apabila didzolimi ia memaafkan.
Mereka yang sabar dalam menghadapi cobaan Alloh SWT.
Mereka yang saling sayang menyayangi karena Alloh ta’ala dan saling memberi juga karena Alloh ta’ala.
Kesemua golongan yang tersebut, oleh Alloh diperintahkan untuk memasukkannya ke dalam surga. [dikutip ; Hadist melalui Umar bin Ash ra. (DURRATUN-NASHIHIIN)]
Golongan Ketiga
Yang tersisa hanya golongan ketiga, ialah golongan yang terbanyak, golongan yang ahli mencampur adukkan amal shaleh dan amal jelek. Kadang mereka amal jeleknya tidak kelihatan oleh manusia, sehingga banyak orang mengira dia orang baik. Kadang pula nampak jelas perilaku jahatnya. Dimana amal jeleknya kadang terbanyak daripada yang baik, kadang pula amal baiknya lebih banyak dari pada yang jelek.
Sesungguhnya golongan inilah yang diberikan selembaran catatan-catatan amal baik mereka, akan kejahatan dan kebaikan mereka. Golongan inilah yang akan di hisab dan dimasukkan ke dalam mizan. Bagi mereka, untuk membersihkan dari dosa-dosanya, ada yang dimanfaatkan dimasukkan kedalam neraka terlebih dahulu untuk membersihkan seluruh dosa-dosanya yang kemudian akan dimasukkan ke dalam surga. Maka dari itu, mulai saat ini marilah kita senantiasa menjaga iman dan ketakwaan kita kepada Alloh SWT. supaya kita diberi keutamaan oleh Alloh dan Rasul-Nya kelak ketika kita meninggal. Amin, ya robbal ‘alamin.
Sholatnya Orang Sakit
Para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang tidak mampu melakukan shalat dengan berdiri hen-daknya shalat sambil duduk, dan jika tidak mampu dengan duduk, maka shalat sambil berbaring dengan posisi tubuh miring dan menghadapkan muka ke kiblat. Disunnatkan miring dengan posisi tubuh miring di atas tubuh bagian kanan. Dan jika tidak mampu melaksanakan shalat dengan berbaring mi-ring, maka ia boleh shalat dengan berbaring telen-tang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada `Imran bin Hushain:"Shalatlah kamu sambil berdiri, dan jika kamu tidak mampu, maka sambil duduk, dan jika tidak mampu, maka dengan berbaring". (HR. Bukhari).
Dan Imam An-Nasa'i menambahkan:
"... lalu jika tidak mampu, maka sambil telentang".
Dan barangsiapa mampu berdiri, akan tetapi tidak mampu ruku` atau sujud, maka kewajiban berdiri tidak gugur darinya. Ia harus shalat sambil berdiri, lalu ruku' dengan isyarat (menundukkan kepala), kemudian duduk dan sujud dengan berisya-rat; karena firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"...Dan berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dengan khusyu'.`". (Al-Baqarah: 238).
Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
"Shalatlah kamu sambil berdiri".
Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menu-rut kesanggupanmu". (At-Taghabun: 16).
Dan jika pada matanya terdapat penyakit, se-mentara para ahli kedokteran yang terpercaya menga-takan: "Jika kamu shalat bertelentang lebih memu-dahkan pengobatanmu", maka boleh shalat telentang.
Barangsiapa tidak mampu ruku` dan sujud, maka cukup berisyarat dengan menundukkan kepala pada saat ruku' dan sujud, dan hendaknya ketika sujud lebih rendah daripada ruku`.
Dan jika hanya tidak mampu sujud saja, maka ruku` (seperti lazimnya) dan sujud dengan berisyarat.
Jika ia tidak dapat membungkukkan pung-gungnya, maka ia membungkukkan lehernya; dan jika punggungnya memang bungkuk sehingga seolah-olah ia sedang ruku`, maka apabila hendak ruku`, ia lebih membungkukkan lagi sedikit, dan di waktu sujud ia lebih membungkukkan lagi semam-punya hingga mukanya lebih mendekati tanah se-mampunya.
Dan barangsiapa tidak mampu berisyarat de-ngan kepala, maka dengan niat dan bacaan saja, dan kewajiban shalat tetap tidak gugur darinya dalam keadaan bagaimanapun selagi ia masih sadar (ber-akal), karena dalil-dalil tersebut di atas.
Dan apabila ditengah-tengah shalat si penderita mampu melakukan apa yang tidak mampu ia lakukan sebelumnya, seperti berdiri, ruku`, sujud atau ber-isyarat dengan kepala, maka ia berpindah kepadanya (melakukan apa yang ia mampu) dengan meneruskan shalat tersebut.
Dan apabila si sakit tertidur atau lupa melaku-kan shalat atau karena lainnya, ia wajib menunaikan-nya di saat ia bangun atau di saat ia ingat, dan tidak boleh menundanya kepada waktu berikutnya. Seba-gaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
"Barangsiapa tertidur atau lupa melakukan shalat, maka hendaknya ia menunaikannya pada saat ia ingat, tidak ada tebusan lain baginya kecuali hanya itu". Lalu beliau mem-baca firman Allah: "dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu". (Thaha: 14).
Tidak boleh meninggalkan shalat dalam keada-an bagaimanapun; bahkan setiap mukallaf wajib bersungguh-sungguh untuk menunaikan shalat pada hari-hari sakitnya melebihi hari-hari ketika ia sehat. Jadi, tidak boleh baginya meninggalkan shalat wajib hingga lewat waktunya, sekalipun ia sakit selagi ia masih sadar (kesadarannya utuh). Ia wajib menunai-kan shalat tersebut menurut kemampuannya. Dan apabila ia meninggalkannya dengan sengaja, sedang-kan ia sadar (masih berakal) lagi mukallaf serta mampu melakukannya, walaupun hanya dengan isyarat, maka dia adalah orang yang berbuat dosa. Bahkan ada sebagian dari para Ahlul `ilm (ulama) yang mengkafirkannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
"Perjanjian antara kita dengan mereka (orang munafiq) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka kafirlah ia".
Dan sabdanya:
"Pokok segala perkara adalah Al-Islam, tiangnya Islam adalah shalat dan puncak Islam adalah jihad di jalan Allah"
Begitu pula sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam:
"(Pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat" (HR. Muslim di dalam Shahih-nya).
Dan pendapat ini yang lebih shahih, sebagai-mana yang dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur'an tentang shalat dan hadits-hadits tersebut.
Dan jika ia kesulitan untuk melakukan shalat pada waktunya, maka boleh menjama' antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan shalat Maghrib dengan shalat Isya', baik jama' taqdim maupun jama' ta'khir, sesuai kemampuannya. Dan jika ia mau boleh memajukan shalat Asharnya digabung dengan shalat Zhuhur atau mengakhirkan Zhuhur bersama Ashar di waktu Ashar. Atau jika ia menghendaki, boleh mema-jukan Isya' bersama Maghrib atau mengakhirkan Maghrib bersama Isya'. Adapun shalat Subuh, (tetap dilakukan seperti biasa) tidak bisa dijama' dengan shalat sebelum atau sesudahnya, karena waktunya terpisah dari shalat sebelum dan sesudahnya.
Inilah hal-hal yang berhubungan dengan orang sakit dalam bersuci dan melakukan shalat.
Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. semoga menyembuhkan orang-orang sakit dari kaum muslim dan menghapus dosa-dosa mereka, dan mengaruniakan ma`af dan afiat kepada kita semua di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Posted in: Sholatnya orang sakit


14.22
M.Asrofi



